Saturday, 23 April 2016

DOA SEHELAI DAUN KERING




Puisi Emha Ainun Najib

Janganku suaraku, ya 'Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maĆ­shum dan aku bergelimang hawaĆ­
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999

MEMECAH MENGUTUHKAN




Puisi Emha Ainun Najib

Kerja dan fungsi memecah manusia
Sujud sembahyang mengutuhkannya
Ego dan nafsu menumpas kehidupan
Oleh cinta nyawa dikembalikan

Lengan tanganmu tanggal sebelah
Karena siang hari politik yang gerah
Deru mesin ekonomi membekukan tubuhmu
Cambuk impian membuat jiwamu jadi hantu

Suami dan istri tak saling mengabdi
Tak mengalahkan atau memenangi
Keduanya adalah sahabat bergandengan tangan
Bersama-sama mengarungi jejeak Tuhan

Kalau berpcu mempersaingkan hari esok
Jangan lupakan cinta di kandungan cakrawala
Kalau cemas karena diiming-imingi tetangga
Berkacalah pada sunyi di gua garba rahasia

1987

RINDU TAK BERUJUNG




Oleh Putri Yunita Handayani

Aku ingat saat dimana kata "I love you" kau selipkan di akhir-akhir sebelum kau menutup telfonmu..
Ku ingat akan semua tawa candamu..
Ku ingat Senyum manis itu..
Kini semua itu telah hilang..

Tak ku temukan lagi senyum itu..
Tak ku lihat lagi tawa canda itu..
Tak ku dengar lagi ucapan "i love you" itu..
Aku rindu.. Aku sangat merindukannya..

Kasih.. Dengarkan.. Dengarkan isi hatiku..
Saat ini, esok, dan selamanya aku sangat membutuhkanmu..
Aku menangis dalam doaku..
Aku Berlutut dan menengadahkan tangan.. "Tuhan.. Akan kah dia cinta terakhirku.. Ku mohon, jika memang dia bukan untukku jangan biarkan rasa ini terus bertahan untuknya.. Tapi jika memang dia tercipta untukku.. Dekatkan ia sejauh apa pun jarak kami berada dan jangan pernah pisahkan.. Aku sangat mencintainya.