Monday, 25 April 2016

Semua ada Hikmanya (Cerpen)



Hari ini adalah hari terburuku aku merasakan betapa hancurnya hati ini, “Cukup” sudahin rasa sakit ini aku sudah tak mampu untuk menahannya. Baru saja aku membuka hati ini untuk mencintai seseorang lagi tapi sebentar saja hati ini menjadi sakit dan tertutup lagi, “Sungguh” aku tidak akan mencintai atau membuka pintu hatiku.
2 minggu yang lalu kau datang menghiasi hidupku, aku mulai mengenalmu lewat dari aku sosial line. Kita mulai chattingan dari pagi sampai malam. Sampai akhirnya kita memutuskan untuk bertemu. Di saat kita ingin bertemu sungguh hati ini sangat begitu senang dan gembira momen ini adalah momen yang paling ku tunggu-tunggu. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 aku bersiap-siap untuk bertemu denganmu. Aku memakai baju kemeja dan celana jeans aku sudah nggak sabar ingin bertemu denganmu. Namaku Hasanudin nama yang sangat lucu bukan. Semuanya sudah siap, aku pun sudah wangi saatnya aku menghidupkan motor mioku.
“Line (nada dering line)” hpku bergetar sepertinya ada yang mengeline-ku. Ku ambil hp dari saku celanaku dan ku lihat ternyata itu dari dia isi line-nya.
“Udin aku udah siap nih, kamu udah di mana?”
Lalu ku balas, “Iya ini mau otw ke rumahmu.” ku hidupin motorku dan ku gas dengan kencang agar aku lebih cepet ke rumahnya untuk menjemputnya. 15 menit kemudian. Akhirnya aku sampai juga ke rumahnya, aku tahu rumahnya karena sekolahanku dulu di daerah ini makanya alamat jalan rumahnya sudah tak asing lagi bagiku.
“Permisi assalamualaikum,” ku ketuk pintunya, “Tok, tok, tok,” ku dengar suara langkah seseorang dari dalam untuk membuka pintunya. “Ceklek” suara pintu terbuka. Aku bergetar, bibirku kaku untuk mengomong baru kali ini, iya baru kali ini aku melihat bidadari dialah wanita paling cantik di dunia ini sungguh aku makin jatuh cinta denganmu.
“Udin ya?” suaranya yang lembut menggangu lamunanku,
“Iya aku Udin,” sambil menjabat tangannya.
“Bentar ya Din aku izin ke Mama dulu, Mama Risa berangkat dulu ya Ma,”
“Iya Risa hati-hati di jalan ya.”
“Ayo Din kita pergi,”
“Bentar Risa aku mau izin ke Mama dulu tak sopan jika aku tak izin dengan beliau soalnya aku membawa anak gadisnya jalan.”
“Permisi Ibu saya Udin Bu temannya Risa hari ini saya izin ke luar sama Risanya ya Bu.”
“Oh ya Nak pergi aja Nak tadi Risa sudah bilang kok sama Ibu, pulangnya jangan malam-malam ya Nak sekitar jam 10 harus udah di rumah,”
“Oke Bu pasti saya tepat waktu Bu jam 10 Risa udah ada di rumah ini Bu,”
“Oke hati-hati ya Din,”
“Iya Bu.” sambil mencium tangan ibunda Risa.
Aku menghidupkan motorku lalu Risa menaikinya. “Udin kita mau pergi ke mana?”
“Udah kamu ikut aja Risa aku yakin kamu bakalan senang nanti.”
“Oke deh aku ikut aja,” aku melaju dengan cepat, Risa lalu memelukku. “Udin jangan bawa kencang-kencang aku takut.” dengan suara merengeknya.
“Iya, iya aku pelan nih tapi jangan lepasin pelukan kamu ya,”
“Dasar genit.” pelukannya pun makin erat kepadaku. Aku memarkirkan motorku.
“Risa kita udah sampai.” sambil memegang tangannya aku membawanya pergi ke tempat danau yang dihiasin padang rumput.
Ada satu pohon besar di mana kami duduk berdua di situ dan ditambah lagi malam ini adalah malam gerhana bulan darah. Risa hanya bisa terdiam lalu dia memegang tanganku dengan erat. “Udin indah sekali tempat ini.” dia pun meneteskan air matanya lalu memelukku. “Udin tempat ini sungguh indah.” Waktu aku dipeluknya sungguh adem rasa hati ini kami duduk di bawah pohon yang rindang itu dan sambil melihat pemandangan indah di depan mata kami. Dia lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Sungguh malam itu adalah malam yang paling indah bagiku dan aku tak akan pernah melupakanya.
Tanggal ini adalah tanggal tunangan Risa bersama kekasihnya. Ternyata Risa sudah punya kekasih dan dia berbohong kepadaku. Dia sungguh wanita yang sangat jahat bagiku kenapa dia membohongiku dia berkata kalau dia belum punya pacar. Dan aku merasakan kalau dia mencintaiku saat dia menyandarkan kepalanya dan memelukku waktu kami di danau tersebut. Tapi buat aku memikirkannya lagi sekarang dia sudah milik orang lain dan aku mengambil banyak pelajaran dari hal ini. Jangan pernah terlalu berharap dan percaya kepada orang yang baru dikenal, terkadang wajah dan sifat bisa menipu dan kita tidak tahu apa yang direncanakan seseorang kepada kita.

No comments:

Post a Comment