Monday, 25 April 2016

Cinta Tak Berestu

Pada tanggal 27 Desember 2015, aku dijemput oleh teman gerejaku, sebenarnya aku belum terlalu kenal sih dia itu siapa, walau aku sering lihat dia. Nah karena ada ibadah di gerejaku mama aku meminta tolong kepadanya untuk menjemput ku, tanpa sepengetahuanku ternyata mamaku memberi nomor teleponku ke dia. Setelah dia menjemput dan membawaku ke gereja, malamnya dia sms aku.
“Hai Marcella, ini aku Edward salam kenal ya,” sms yang masuk ke hpku.
“Hai juga, oh iya salam kenal juga ya.” balasanku.
Dan dari situ akhirnya pun kami menjadi lebih dekat, walau kami tidak pacaran tetapi kita sama-sama mempunyai rasa sayang dan cinta. Sebenarnya aku memang belum boleh pacaran sama orangtuaku, dan aku dengan Edward pun tidak ada status pacaran, kami hanya mengikuti waktu yang terus berjalan sampai akhirnya pun mama dan ayahnya setuju dengan hubungan kita berdua. Keesokan harinya aku bermain di rumahnya, dengan dia dan adiknya, tiba-tiba mamanya pun memanggilku dan berbicara serius tentang hubungan aku dengan Edward.
“Cella, Tante mau ngomong sama kamu,” ucap mamanya.
“Iya Tante ada apa?” tanyaku.
“Cella serius sama Edward kan?” tanyanya.
“Iya Tante serius, emang ada apa ya?” tanyaku yang mulai penasaran.
“Gak apa-apa Tante cuma mau usulin gimana kalau bulan depan Cella dan Edward tunangan?” jawabnya.
“Hah.., bulan depan Tante?” aku pun menjadi kaget.
Karena ucapan mamanya yang bilang untuk aku dan Edward tunangan itu menjadi masalah besar untukku, karena aku belum boleh pacaran. Pacaran aja belum boleh apalagi tunangan? Aku pun bicara tentang masalah ini kepada orangtuaku, dan itu semua ditolak mentah-mentah oleh mamaku, karena aku anak satu-satunya mamaku tidak mau aku cepat-cepat untuk mengambil keputusan apalagi untuk masa depanku. Dan aku bercerita kepada Edward tentang tolakan yang mamaku lontarkan kepadaku, Edward pun bercerita kepada orangtuanya. Dan seketika orangtuannya pun berubah pikiran yang tadinya sangat setuju atas hubungan kami sekarang ikutan tidak setuju dan melarang kami berdekatan lagi. Semua hanya karena kehalang oleh restu dari orangtua kami, lalu kami mau berusaha sekuat apa pun kalau tidak diberi restu itu semua akan percuma dan sia-sia, kami pun memutuskan untuk menjalani hidup kami masing-masing seperti dulu.

No comments:

Post a Comment