Pada tanggal 27 Desember 2015, aku dijemput oleh teman gerejaku,
sebenarnya aku belum terlalu kenal sih dia itu siapa, walau aku sering
lihat dia. Nah karena ada ibadah di gerejaku mama aku meminta tolong
kepadanya untuk menjemput ku, tanpa sepengetahuanku ternyata mamaku
memberi nomor teleponku ke dia. Setelah dia menjemput dan membawaku ke
gereja, malamnya dia sms aku.
“Hai Marcella, ini aku Edward salam kenal ya,” sms yang masuk ke hpku.
“Hai juga, oh iya salam kenal juga ya.” balasanku.
Dan dari situ akhirnya pun kami menjadi lebih dekat, walau kami tidak
pacaran tetapi kita sama-sama mempunyai rasa sayang dan cinta.
Sebenarnya aku memang belum boleh pacaran sama orangtuaku, dan aku
dengan Edward pun tidak ada status pacaran, kami hanya mengikuti waktu
yang terus berjalan sampai akhirnya pun mama dan ayahnya setuju dengan
hubungan kita berdua. Keesokan harinya aku bermain di rumahnya, dengan
dia dan adiknya, tiba-tiba mamanya pun memanggilku dan berbicara serius
tentang hubungan aku dengan Edward.
“Cella, Tante mau ngomong sama kamu,” ucap mamanya.
“Iya Tante ada apa?” tanyaku.
“Cella serius sama Edward kan?” tanyanya.
“Iya Tante serius, emang ada apa ya?” tanyaku yang mulai penasaran.
“Gak apa-apa Tante cuma mau usulin gimana kalau bulan depan Cella dan Edward tunangan?” jawabnya.
“Hah.., bulan depan Tante?” aku pun menjadi kaget.
Karena ucapan mamanya yang bilang untuk aku dan Edward tunangan itu
menjadi masalah besar untukku, karena aku belum boleh pacaran. Pacaran
aja belum boleh apalagi tunangan? Aku pun bicara tentang masalah ini
kepada orangtuaku, dan itu semua ditolak mentah-mentah oleh mamaku,
karena aku anak satu-satunya mamaku tidak mau aku cepat-cepat untuk
mengambil keputusan apalagi untuk masa depanku. Dan aku bercerita kepada
Edward tentang tolakan yang mamaku lontarkan kepadaku, Edward pun
bercerita kepada orangtuanya. Dan seketika orangtuannya pun berubah
pikiran yang tadinya sangat setuju atas hubungan kami sekarang ikutan
tidak setuju dan melarang kami berdekatan lagi. Semua hanya karena
kehalang oleh restu dari orangtua kami, lalu kami mau berusaha sekuat
apa pun kalau tidak diberi restu itu semua akan percuma dan sia-sia,
kami pun memutuskan untuk menjalani hidup kami masing-masing seperti
dulu.
No comments:
Post a Comment