Wednesday, 1 June 2016

A Deep Meaning of Friendship

Friendship is like the two rings that have different shapes
But can be combined with a very strong sense
Friendship is just a word
But it has a deep meaning
We’ll feel it when actually find
A continued friend in a life
Friendship has always been an oasis when we experience sadness
Friendship is always a joy to be complementary
A day without friends is very strange
Months without friends are very painful
True friends will always be missed
Talks will continue to be memorable
Easy to get a rich friend
But hard getting a forever friend
Because a true friend is not for a reason

Tuesday, 31 May 2016

Pursuing A Dream

Not just a dream.

That it lost because of this.
There is only a dream tomorrow.
Who remembered later on the day.
But it all right away.
Passed without anxiety liver.
Only memories and dreams.
Not the missing eroded day.
Believe all your dreams.
And follow your conscience.
that will lead you.
Grab all of your identity.

Hold A Dream

Not deterrent I am stepping …

Knitting all dream that is getting weaker
Harsh road that I traveled during this
Hot blazing sun never end
But one of my handheld
To reach all dream …
I will pursue that dream skies
This seemed tongue-tied …
Ya Allah … O my God.
I beg my prayers to be reality granted to pursue that dream until I succeed
There is only a dream tomorrow …
Sometimes in the day
Despite what lies ahead …
I believe the earth won’t silent …
For welcoming step my foot …
For reaching my Ideals
Million won his for stepping
A sea of sweat covering my
I never cared Won’t
I will achieve all the dreams
The earth is always spinning …
Science comes over me
Deliver about my future
Which it reached for my dream with my mightily
Every day I open the book
Kan ku absorb knowledge from books
Unconsciously I can all my new passion
To achieve my Ideals
O dream ,, Wait for me there …
I pick it up to you as well as real
Its just my taste
I’m sure God willing, the dream will come true

PURSUIT OF DREAM

Scintillation light in the morning

Welcomes soul full of ambition
Start wading step
A bright future awaited
    I start with a definite step
Staring at the sun light
Incessant pulse
Retracing steps stronger my heart
On expectations of ideals
Although I traveled nevertheless far right
Sky-high ornamental star
I will continue to reach out it
     Million for steps to achieve it
Covering an area of ocean sweat
Never mind
I will achieve all the dreams

True Friends

Best friends stick together till the end,
They are like a straight line that will not bend.
They trust each other forever,
No matter if you’re apart you are together.
They can be your hero and save the day,
They will never leave your side they are here to stay.
They help you up when you fall,
Your true friends are best of all.

Monday, 30 May 2016

Patah Hati

Patah hati laut menghempaskan gelombang
Setinggi gedung-gedung pencakar langit
Hatinya remuk redam
Cintanya pupus tak susuai harapan
Bahkan ombaknya kencang

Bergulung dan menghempas daratan … 

Senjaku

Senja aku rindu dan hati ini kian saja terasa kelam
Yang pekatnya lebih hitam dari ukiran malam
Sepenggal ragu menggurat asa jika rindu itu tiba …



Dunia Mimpi

Dalam dunia mimpi dan pada akhirnya,
Takkan ada lagi sajak-sajak rindu,
Menyadari kenyataan,
Jika selama ini ternyata hanya hidup dalam mimpi-mimpinya,

Seseorang itu berlalu menutup … 

Gelisah

Tak pernah usai padamu selalu ada kerinduan
Yang menyisa pada sepenggal senja
Dan aku mulai gelisah
Tersebab tak ingin malam cepat menyapa

Padamu selalu ada … 

Perahu Kertas

Perahu kertas
Dengan selembar kertas origami biru
Kutuliskan selarik namamu
Kujadikan sebuah perahu
Perahu biru kulayarkan menuju tempatmu
Yang kusengaja untuk menyentuh hatimu

Tetapi … Kutawar Cintamu 

Kucumbu Nafasmu


Dengan kata-kata kau sadar,
Tiada jarak antara kita
Hanya saja tak ada kata-kata yang merayap
Diantara sela lenguh nafas kita yang bercumbu membaur

Kelelahan Aku Tuhan

Kelelahan Tuhan, aku kelelahan selalu dipertanyakan
Kembali diragukan
Untuk yang kesekian
Aku benar-benar lelah
Melabuhkan harapan
Menjangkau impian
Lalu kapan disandarkan

Buat Apa

Untuk apa … kamu dan dunia
Bagaimana ku bisa melihat dunia
Saat mataku hanya tertuju padamu
Bagaimana dapat ku mengenal dunia


Saat ku hanya menunggu suratan tanganmu

Kecoa ....

Bagiku … kecoa kata orang serangga menjijikkan,
Muncul ditempat pembuangan,
Melata dalam gelap,


Bermukim dalam pengap.

Lanjutan Kecoa ....

Kecoa binatang paling tangguh,
Bertahan sekalipun peradaban bumi runtuh,
Rayap-rayap menetap,
Tinggal disudut-sudut gelap,
Kerajaan kecil yang lembab,
Ruang yang jarang tersingkap,
Rayap-rayap tak punya mata,
Mereka tak suka cahaya,

Persimpangan Karbala

Persimpangan karbala
Tak terasa aku sampai dijalan ini,
Jalan kebenaran yang membawaku kemari,
Tempat yang hanya menyuguhkan ngeri,
Menyebutnya saja membuat bulu kuduk berdiri. …
Ku ikhlaskan kau pisau untukku
Kakinya adalah hentakan senjata yang selalu mencelakakan diriku,


Mulutnya adalah serpihan racun yang ganas

Melepasmu

Kami sedih melepasmu pergi,
Tapi kamipun tak kuasa tuk menahanmu tuk tidak pergi …
Yang tersisa kini hanyalah kehampaan, …
Juni menangis aku menangis,
Anak-anakku pun menangis…
Tat kala perpisahan terjadi,
Tat kala kesedihan mendera…
Kami semua menangis…
Do’a dan harap pun menjemput rasa… … 

Nostalgia

Nostalgia sedikit aroma sendu dan secangkir kopi
Menjelma dusta mengulur asmara yang sempat terbaca
Walau tak pernah cinta yang hilang
Hujan sederas ini kemana kau pergi ?
Tak seperti biasa kudengar suaraku sendiri,
Bisik yang entah menyampaikan apa,
Percakapan aku dan diriku …
Merelakan engkau bagaikan kutu didalam hati ...
Menggerogoti merahnya warna darah ...

Monday, 25 April 2016

Bukan Segalanya

“Naya, aku jadian sama Riko,” ucap Mira kegirangan.
Mira adalah sahabatku dari kecil, kami selalu bersama-sama ke mana pun. Kami juga aktivis pengajian. Di usianya yang remaja ini Mira mulai jatuh cinta pada seorang laki-laki yang bernama Riko. Dia adalah kakak kelas kami, Mira sangat tergila-gila padanya.
“Aku ikut senang, Mir. Tapi ingat! Pacar bukan segalanya,” ucapku menasihati Mira, Mira mengangguk.
Sudah hampir 2 minggu aku tak bertemu dengan Mira. Ya, kami sedang libur semester sekarang selama kurang lebih tiga minggu. Biasanya setiap hari jumat kami datang ke pengajian bersama-sama. Tapi entah kenapa sudah dua minggu ini Mira tidak datang. Aku coba menghubungi ponselnya, tapi selalu tidak aktif. Mungkin dia sudah berganti kartu. Sore ini, aku jalan-jalan ke taman komplek sendirian. Ya, karena sampai saat ini Mira belum ada kabar. Saat aku duduk di bangku taman sambil membaca novel penulis favoritku aku melihat seorang berjalan sendirian sambil fokus terhadap ponselnya. Aku amati gadis itu, dan ternyata, Mira! Aku segera menghampirinya.
“Mira?” panggilku sambil mendekati gadis itu, lalu ia menoleh.
“Oh, hai Nay. Aku kangen sama kamu,” jawabnya dengan wajah yang sangat bahagia.
“Mira kamu kenapa tidak pakai jilbab?” tanyaku dengan rasa tak percaya.
Aku sangat kaget melihat Mira tidak mengenakan jilbabnya. Padahal kami dulu selalu menutup aurat. Tapi kenapa kini ia melepasnya?
“Sudahlah Nay, aku tidak mau membicarakan itu. Lagi pula tidak berjilbab aku cantik kan?”
“Mira, ini bukan soal cantik atau tidaknya. Tapi berjilbab kan kewajiban seorang muslimah. Kenapa kamu melepas jilbabmu, Mir?” tanyaku kembali.
“Riko tidak suka kalau aku pakai jilbab.” Ucapnya pelan.
“Apa? Jadi semua ini karena Riko? Kamu rela melepas jilbabmu hanya karena dia? Nay, aku kan sudah bilang kalau pacar itu..” ucapanku terpotong.
“Bukan segalanya? Iya kan kamu mau bilang begitu? Tapi bagiku Riko itu segalanya Nay. Aku sangat menyayangi dia, dia juga sangat menyayangiku,” ucapnya dengan sedikit nada tinggi.
“Tapi Mira, aku ini teman kamu. Aku ingin kamu kembali seperti dulu mengenakan jilbab. Riko memang mungkin menyayangimu. Tapi belum tentu dia yang akan menjadi suamimu. Jangan terlalu percaya pada janji laki-laki Mira.” Ucapku panjang lebar.
“Kamu kenapa sih gak suka aku bahagia, Nay? Oh iya aku tahu, kamu juga suka kan sama Riko? Iya kan? Kalu kamu teman aku, kamu pasti bakal senang aku bahagia. Kamu bukan teman aku Nay,” ucapnya membentakku.
Astagfirullah, baru kali ini aku melihat Mira berbicara dengan nada setinggi itu padaku. Tak ku sangka dia berubah begitu saja. Aku sangat sedih Mira berbicara seperti itu. Sore itu langit berubah menjadi mendung, seakan tahu apa yang ku rasakan saat ini. Masa masa sekolah telah kembali, aku berangkat sekolah dengan penuh harapan kalau Mira akan berubah seperti dulu. Tapi nyatanya, harapanku hanyalah angan-angan. Mira masih cuek padaku, bahkan kami yang tadinya duduk sebangku, kini berpisah. Tak jarang jika jam istirahat aku melihat Mira dan kak Riko makan di kantin berdua. Padahal tadinya, jika jam istirahat aku yang makan bersama Mira. Saat pulang sekolah, Mira diantar oleh kak Riko. Dan aku hanya berjalan kaki sendirian. “Kamu berubah Mir.” lirihku.
Minggu ini, aku habiskan untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Biasanya hari minggu aku dan Mira selalu jalan-jalan ke tempat-tempat baru. Tapi mungkin sekarang dia sedang menghabiskan waktu bersama kak Riko. Tak lama aku mengerjakan tugasku tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku segera membukanya. Dan aku sangat terkejut bahwa yang membuka pintu itu adalah Mira dengan pipi yang basah oleh air mata.
“Mira, kamu kenapa nangis Mir?” tanyaku khawatir, Mira memelukku dan menumpahkan tangisannya di pelukanku. Aku menyuruhnya duduk di kursi dan aku membawakan segelas air putih. “Ayo ceritakan ada apa denganmu?” tanyaku baik-baik. Mira mulai mengatur napasnya.
“Riko selingkuh Nay, dia jalan dengan gadis lain.” Ucapnya dengan ai mata yang masih mengalir.
“Mungkin itu saudara atau temannya, Mir? Coba kamu tanya dulu.”
“Aku lihat dia bergandengan dengan gadis itu, Nay. Aku tanya dia, dan ternyata gadis itu pacarnya Riko. Dia selngkuh Nay.” Ucapnya sambil berhambur memelukku kembali, aku sangat bingung harus menjawab apa.
“Aku bodoh Nay, aku terlalu percaya omongan dia dibandingkan kamu. Maafkan aku Nay, aku sudah membentak kamu. Aku sangat menyesal Nay. Aku juga menyesal karena telah melepas jilbabku.” Mira berbicara dengan sesenggukan.
“Sudah Mir, jangan seperti itu. Kamu tidak bodoh, hanya saja kamu belum menyadari. Aku sudah memaafkanmu Mir.” Ucapku, Mira menatapku.
“Terima kasih Nay. Kamu memang sahabat terbaik yang pernah aku miliki,” ia tersenyum dan aku juga tersenyum.
Dan sekarang, Mira telah memakai jilbabnya kembali dan rutin mengikuti pengajian bersamaku. Di sekolah, kami juga duduk sebangku kembali. Mira juga tidak mau pacaran lagi. Kini ia juga percaya, kalau pacar bukanlah segalanya. Karena ada yang lebih penting dan sangat penting yaitu masa depan kita. Semoga persahabatan kita diberkahi oleh Allah, Mir. Amin.

Kado Istimewa



Sejak dulu aku telah berjanji suatu saat aku akan menghadiri pernikahan sahabat SMP-ku dulu Rizal. Aku yakin Rizal masih mengingatku sebagai sahabatnya 20 tahun yang lalu, meskipun dia sekarang sudah menjadi orang yang sukses dan kaya raya. Tapi dia adalah sahabatku dan aku yakin akan terus begitu. Meskipun sejak kami lulus SMP kami belum bertemu lagi sampai sekarang. Aku menelepon adik iparku untuk mencari tahu kapan pelaksanaan resepsi pernikahan Rizal.
“Halo… Bayu, kapan resepsi pernikahan Rizal?”
“Kalau nggak salah dengar minggu depan Kak Ranti,”
“Kok, kalau nggak salah dengar, kamu kan kerja di kantornya masa kamu nggak tahu. Oh iya, kamu dapet undangannya nggak?”
“Belum Kak, kayaknya undangannya belum disebar,”
“Ya sudah, kalau ada berita lagi tolong hubungi aku ya,”
“Iya Kak.”
Ckklik. Setiap hari aku memikirkan tentang pernikahan sahabatku itu. Rasanya aku senang sekali, kami akan bertemu lagi melepas rindu ngobrol bersama dengan Rizal dan istrinya. Entah apa yang membuatku sangat bahagia.
-3 hari
“Ya, halo?”
“Halo Kak, pernikahan Mas Rizal tanggal 18,”
“Oh, iya iya, sekarang tanggal berapa ya?”
“15 Kak,”
“Kok mendadak banget kamu ngasih tahu aku?”
“Iya Kak, baru tadi pagi saya dapat undangannya,”
“Baiklah, besok aku akan ke rumahmu,”
“Iya Kak, naik kereta aja biar cepat,”
“Iya iya, makasihya Bayu,”
“Iya Kak, sama sama.”
Malam ini aku langsung bersiap-siap untuk menuju rumah adikku besok pagi. Aku menunggu kedatangan kereta api yang menuju kota adikku.
“Assalamualaikum,” Sesampainya aku di rumah adikku.
“Waalaikiumsalam, Kak udah sampai? Kenapa nggak telepon, nanti kan mas Bayu bisa jemput Kakak,”
“Nggak usah lah Dewi, nanti tambah ngerepotin,”
“Ya udah masuk Kak.” aku masuk ke rumah adikku yang bisa dibilang lumayan besar.
“Loh, Kak Ranti kok sudah sampai?” Tanya Bayu.
“Alhamdulillah,”
“Kok nggak telepon saya, nantikan bisa saya jemput,”
“Nggak apa-apa, eh aku lihat undangan resepsi pernikahan Rizal dong,”
“Ini.” Kata Bayu sambil tersenyum kecut.
Sepanjang hari aku berpikir apa yang bisa aku berikan kepada Rizal di hari pernikahannya besok, aku terus memutar otakku untuk mengingat apa yang sangat Rizal sukai. Ya, sekarang aku ingat Rizal sangat menyukai kue lapis buatanku 20 tahun yang lalu.
“Kak apakah Kakak yakin akan datang ke resepsi pernikahan Mas Rizal?”
“Iya lah Dewi, memangnya kenapa?”
“Semua orang pasti berubah kan apa lagi dalam jangka waktu 20 tahun?”
“Maksud kamu Rizal? Tapi dia sahabatku Wi,”
“Tapi sepertinya kita tidak bisa terlalu berharap Mas Rizal masih mengingat Kakak,”
“Aku yakin dia tidak berubah,”
“Ya sudahlah.”
Aku mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat kue lapis yang akan ku berikan kepada Rizal. Ya, hari ini aku sangatlah senang karena hari ini adalah hari pernikahan sahabatku Rizal. Hadiah yang kemarin aku persiapkan aku masukkan ke kotak kue dan aku bungkus dengan sangat rapi, tak lupa sebelum aku bungkus aku beri kertas yang bertuliskan Ranti, aku berharap saat Rizal membuka kado ini dia akan mengingatku, sahabat SMP-nya dulu. Aku datang ke resepsi pernikahan Rizal bersama Dewi dan Bayu.
“Maaf Mbak, kadonya bisa dititipkan kepada saya,”
“Oh iya Mbak, tapi tolong naruhnya jangan sampai terbalik nanti isinya bisa rusak,”
“Baik Mbak, terima kasih, silahkan masuk.”
Acaranya belum dimulai tapi jantungku sudah sangat berdebar, menandakan sangat senangnya aku. Akhirnya setelah menunggu acaranya pun dimulai. Dan di penghujung acara para tamu dipersilahkan memberi ucapan selamat kepada pengantin. Inilah yang aku tunggu-tunggu hatiku berdebar sangatlah cepat aku, aku berdiri di antara orang-orang yang berbaris rapi untuk memberi selamat kepada pengantin. Dan sampailah pada giliranku untuk memberi selamat kepada pengantin. Pertama aku memberi selamat kepada ayah dan ibu Rizal.
“Selamat ya om. Saya Ranti om masih ingat?”
“Ya, ya terima kasih..”
Dan akhirnya ini adalah kesempatanku memberi selamat kepada Rizal.
“Rizal, selamat ya ini aku Ranti, kamu masih ingat aku kan?”
“Iya iya terima kasih”
“Aku sahabat kamu waktu SMP. Ya ampun aku seneng banget waktu dengar kamu mau menikah,”
“Iya iya terima kasih,”
“Kita bisa kan nanti ngobrol-ngobrol lagi?”
“Baik, baik,”
“Sekali lagi selamat ya Rizal,”
“Iya terima kasih.”
Aku pun beranjak pergi setelah selesai memberi ucapan selamat, karena orang-orang yang antre untuk memberi ucapan selamat mulai resah karena antrean berhenti.
-7 hari
“Hai… Rizal lagi buka-buka kado pernikahan nih ya?”
“Iya nih bro, bantuin dong,”
“Yang penting ada imbalan dong?”
“Gampang ambil aja,”
“Sip… Kunci mobil ada nggak?”
“Ada 5,”
“Amplop, amplop,”
“Langsung transfer.”
“Wlllekkkk…. Bau apaan nih lo nyimpan bangkai ya?”
“Enak aja lo ngomong ya nggak lah,”
“Baunya dari kado ini nih. Kayaknya udah busuk deh isinya,” Kata teman Rizal sambil mengangkat sebuah kado.
“Coba lo buka,”
“Ada namanya Rraan-rani-ratti siapa sih udah rusak tulisannya nggak bisa dibaca,”
“Bii. Bi.. Bi Ati cepat sini,”
“I-iya den Rizal ada apa?”
“Lama amat sih? Nih,” Rizal sambil memberikan kado yang berbau busuk tadi.
“Mau disimpan di mana den?”
“Simpan, buang!!”
“Baik den.”