Jendela Sastra
Sunday, 24 April 2016
Secangkir Kopiku
Dulu ia yang sempat ku bahagiakan dengan segala kekuranganku …
Beginilah caraku tabah
Aku lupa cara menuang rasa
Pada secangkir kopi yang kau pesan
Dengan isyarat perpisahan pasti dan perlahan beku di pelupuk anak kerinduan …
Indah ...
Mewujud ditemani tangis airmata waktu lihatlah …
Sebuah permohonan memujimu adalah matahari yang tak lekang oleh malam,
Tidak pula sinarnya berkabut awan mendung
Dimana burung-burung prenjak selalu berlayar di birunya langit …
Dan inilah keindahan itu
Hingga pada akhirnya aku harus puas
Pada kekalahan yang tak pernah aku inginkan.
Diamku Sekamku
Tanpa tanda tanya adakah yang harus dipertahankan dari sebuah diam?
Bertahan dengan tanpa perasaan atau hanya ada dingin yang tersekam?
Bagaimana bila dadaku lebih mengharap …
Kembalilah siang ini kata-kata yang mulai lelah
Rebah di kepalaku saat bayanganmu yang dulu sempat memelukku kembali
Newer Posts
Older Posts
Home
Subscribe to:
Posts (Atom)