Saturday, 23 April 2016

Semangatmu Kartini





habis gelap terbitlah terang
hal itulah yang ada di benakmu
dimana tidak ada pembatas
antara kita dan mereka

ingin kau hapuskan pembatas itu
ingin kau tunjukan pada meraka
bahwa tiada yang beda antara
kau kami dan mereka

kau korbankan jiwa ragamu
hidup matimu hanya untuk itu
kau percaya semangat
bahwa kami bisa yang mereka lakukan

usaha semangatmu tak pernah padam
walau banyak caci maki menghadang
kau ingin hapuskan dinding perbedaan
untuk selama-lamanya

hingga pada akhirnya kami pun
memetik hasil jerih payahmu

kartini kau tunjukan kau bisa
Kartini kau inspirasi kami
kartini kau inspirasi wanita negri ini
kartini kau ibu bagi kami

terima kasih atas jasa-jasamu
jasa-jasa yang telah menuntun kami
menjadi orang yang pantang menyerah
menjadi orang yang tak putus asa

terima kasih kartini
doa kami selalu bersamamu

-Selamat Hari Kartini-

MAJU


Karya: Chairil Anwar
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang

Diponegoro


Karya: Chairil Anwar
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Tuhanku


Karya: Chairil Anwar
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943

Doa


Karya: Chairil Anwar
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cahyaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Hampa


Karya: Chairil Anwar
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Malam Di Pegunungan


Karya: Chairil Anwar
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Krawang – Bekasi


Karya: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Malam


Karya: Chairil Anwar
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
Thermopylae?
jagal tidak dikenal?
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Senja Di Pelabuhan Kecil


Karya: Chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Rumahku


Karya: Chairil Anwar
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

Yang Terampas Dan Yang Terputus


Karya: Chairil Anwar
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Cintaku Jauh di Pulau


Karya: Chairil Anwar
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Prajurit Jaga Malam


Karya: Chairil Anwar
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

Sajak Putih


Karya: Chairil Anwar
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Cintaku Jauh di Pulau


Karya: Chairil Anwar
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Tak Sepadan


Karya: Chairil Anwar
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak saru juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangga
Habis hangus di api matamu
‘Ku kayak tidak tahu saja
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

Lagu Siul


Karya: Chairil Anwar
Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga

Tuti Artic


Karya: Chairil Anwar
Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
isteriku dalam latihan; kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
-ketika kita bersepeda kuantar kau pulang -
panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar
,

Derai-derai Cemara


Karya: Chairil Anwar
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

AKU


Karya: Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Korupsi



 Di Atas itu Lebih Enak ....

Bangsa ini indah, indah akan alamnya serta kaya akan rempah dan hasil buminya. Tapi kenapa bangsa ini miskin akan etika dan moral untuk bernegara. Apakah rasa patriotisme itu sudah luntur ?  Kita sebagai anak bangsa seharusnya tidak sampai sejauh itu, menggunakan fasilitas atau alat negara sebagai kepentingan pribadi. Tapi mengapa itu terjadi ?
KORUPSI atau rasuah ( bahasa latin : corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok ) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Dalam arti luasnya korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan atau kepentingan pribadi. Hanya karena demi uang manusia tega melakukan hal seperti itu. Rakyat hanya bisa melihat, mendengar dan merasakan dari jauh akan ganasnya para pimpinan dan para pejabatnya saling berebut kekayaan serta kekuasaan. Mau jadi apa negara ini kalau pimpinan nya seperti itu .... dan tidak seharusnya kepala kita sebagai rakyat diinjak bagai binatang yang siap disembelih kapanpun. Padahal kita ( rakyat ) yang buat mereka diatas. 
Negara ini kaya, kaya akan keragaman budayanya .... tapi kaya juga akan penjahatnya ..., kekayaan itu tidak sebanding dengan kelakuan anak bangsanya sendiri yang tega menggrogoti hasil buminya sendiri. Kita berhak marah akan semua ini, kita berhak untuk berteriak supaya mereka yang duduk di meja bundar itu dengar. Lagi-lagi mereka lolos dari kejaran. Mereka berkelit seakan-akan mereka tidak melakukan hal itu. Perbuatan melawan hukum itu biasa di negara tercinta ini, buktinya jeruji besi tidak membuat mereka kapok untuk melakukan tindakan yang sama. Apa yang buat mereka kapok ? agar mereka tidak melakukan hal itu lagi .... mari kita jawab sama-sama dalam wacana buku ini ....
Kurangnya pengetahuan kita akan korupsi bisa jadi dasar kalau kita ini mudah dibodohi oleh pihak manapun, baik pimpinan, pejabat ataupun alat negara lainya. Dari hulu sampai hilir harusnya kita tahu aliran dana ( uang ) yang mengalir untuk kita ( rakyat ) agar kita tidak mudah untuk dibodohi ... demo sebagai senjata mahasiswa atau kita ( rakyat ) tak lagi digubris apalagi teriak-teriak di depan gedung DPR atau DPRD pun kita masih ditendang keluar. Dikiranya kita ( rakyat ) ini hanya cari kerjaan saja. Korupsi ... seharusnya pemerintah juga sadar diri dan tidak saling menyalahkan kenapa anak bangsa ini ( abdi negara ) bisa melakukan hal itu ... apakah kurang gaji mereka, apakah kurang kesejahteraan keluarga mereka dan apakah mereka sendiri yang haus akan kekayaan dan kekuasaan ? kasus pelik ini memang sangat lebar kalau di bahas bahkan tak akan ada habisnya.      
                Lemahnya pengawasan dari negara, kurangnya transparasi dalam pengambilan keputusan pemerintah, biaya kampanye-kampanye polotik yang mahal, proyek yang melibatkan uang rakyat yang cukup besar, jaringan-jaringan tertutup “teman lama” mementingkan diri sendiri, lemahnya hukum di negara ini, kurangnya kebebasan berpendapat, serta gaji dan kesejahteraan para pegawai di pusat maupun daerah yang terlalu rendah, rakyat yang cuek dan tidak tertarik atau mudah dibohongi dalam pemilihan umum, kurangnya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan. Dari dampak-dampak ini maka terjadilah tindak pidana tersebut. Seharusnya mereka ( koruptor ) berfikir jangan berfikir dan jangan hanya mementingkan perut sendiri. Coba kita berfikir secara logika, sebenarnya korupsi yang terjadi di negara kita ini merupakan kebiasaan dari bangsa kita sendiri contoh kecil, kita terbiasa menggunakan sesuatu ( uang ) yang bukan milik kita digunakan untuk melancarkan suatu kegiatan walaupun toh akhirnya uang itu kita kembalikan di posisi semula. Logika ini coba kita renungkan sama-sama, kalau kita belajar mengupas sesuatu dari dasar maka kita akan dapat mengetahui akar permasalahan itu sendiri. Korupsi ini merupakan tantangan serius terhadap pembangunan, di dalam suatu negara korupsi ini dapat merusak tatanan pemerintahan ( demokrasi ) bagaimana tidak secara umum korupsi mengikis kemampuan suatu lembaga atau konstitusi bayangkan pejabat diangkat bukan karena prestasi tapi karena sogokan yang cukup besar, hal ini memicu ke tidak demokrasian suatu negara dalam mengambil suatu kebijakan. Kita ( rakyat ) harusnya sadar hal-hal tersebut sudah menjadi budaya di negara kita, tapi kita ( rakyat ) tidak semestinya takut dan hanya diam dalam menyikapi hal ini.
                Kita ( rakyat ) mengapa selalu dibungkam dan dibutakan tentang hal yang satu ini ? mereka ( koruptor ) tidak sadar bahwa mereka bisa ada diatas karena kita ( rakyat) mereka ( koruptor ) selalu berteriak atas nama rakyat dan bertindak atas nama rakyat. Kita bangsa Indonesia sudah lama dijajah kurang lebih 350 tahun kita merasakan pedihnya dijajah oleh bangsa asing tapi kenapa kita ( rakyat ) justru sekarang dijajah oleh bangsa kita sendiri ( koruptor ) sudah gelap kah otak kita untuk berfikir lebih sehat, sudah tidak mampu kah kita untuk berjalan lebih tegap menyongsong masa depan. Mau di kasih makan apa anak cucu kita nanti ? nasi hasil korupsi kah, pakaian hasil korupsi kah, rumah hasil korupsi kah ? tanda tanya yang sangat besar di otak kita sekarang ....
                Di media elektronik, koran, media sosial bahkan di seluruh dunia ini membahas masalah ini ... apakah pantas anak cucu kita setiap hari dijejali tontonan yang seperti itu ? harusnya mereka ( koruptor ) sadar diri bahwa anak-anaknya pun punya masa depan ... apa anak-anak nantinya akan bangga punya bapak seorang koruptor ? ketidakadilan ini menuai kontroversi harusnya tidak ... kalau mereka ( koruptor ) itu punya otak ... dimana mereka punya otak orang sama bangsa sendiri aja tega ... itu cermin bangsa kita yang sudah larut akan kekayaan dan kekuasaan ... kita ( rakyat ) harus sadar diri bahwa dunia ini semakin renta dan tua untuk dipijak akan melangkah kemana kalau anak cucu kita nanti berjalan dijalan yang sudah gelap dan tertutup ... apakah mereka bisa hidup dengan damai dan sejahtera kalau negara tidak bisa lagi mensejahterahkan rakyatnya ? Memang Di Atas itu Enak toh ...
                Hukum yang sangat lemah di negara ini membuat setiap peristiwa demi peristiwa gampang untuk dilipat dan dilupakan bahkan dianggap suatu hal yang remeh, tidak adanya efek jera bagi sang pelaku ( koruptor ) membuat mereka tidak kapok untuk mengulang perbuatannya. Pertentangan yang sangat kontroversial dimana sang pelaku selalu berkelit dalam setiap kasus, membuat kuping kita ( rakyat ) geram dan jengah. Tindakan sang penegak hukum pun tak ada bedanya, mereka sendiri terjerat dalam lingkaran ( korupsi ). Lalu kapan para pelaku ( koruptor ) bisa diberantas di negara ini. Bencana yang sangat besar yang melanda di negara kita yang tercinta ini belum tertuntaskan sampai kapanpun, karena mereka ( pejabat / koruptor ) tetap berfikir kalau di atas itu lebih enak ...

Masih Bertahan ...

Saat ini dan kapanpun kucoba berdiri tegap di sini ...
Mencoba beralihpun tak terlintas jua ... di benak ku ...
Kutegapkan lagi menyongsong matahari ... demi kau .. semua ...
Memang tak berarti ... semua ini bagimu ...
Tapi sangat berarti bagiku ...
Memang itu berat kujalani ... aku masih bisa bertahan ...
Sekarang, nanti dan sampai kapan pun itu ...
Elegi kehidupan memang merambat terus ...
Tapi aku yakin roda tetap akan berputar ... berputar menjadi lebih baik .....
Tak sadarkah kita ... Masalah itu dari kita sendiri datangnya .... 



Mbah
22 April 2016

Tak Berarti Lagi ..

Kuhentakkan kakiku di sini ... hanya untuk kau dengar ...
Kuhembuskan nafasku hanya untuk kau rasakan ...
Tapi ini hanya angin lalu bagimu ....
Ingin ku terbang lagi bersama mu agar lebih bisa berarti lagi ...
Tapi itu tak mungkin ....
Karena sudah tak berarti lagi .... buatmu


Mbah
22 April 2016

Thursday, 21 April 2016

Nyenyakku ...

Rindu akan terbang di langitMu ...
Dengan angan yang bercampur awan ...
Terendus bau wangi di sekitar hijau mu ..
Di balik pohon itu aku sembunyi ...
Dan hanya melihat ...
Kedamaian yang tak terukir di benakku ...
Impian itu menghanyutkan angan tidur kelam ku ...
Warna hidup memang beraneka ...
Tapi kilau putihmu tak tertandingi ...
Lemah aku disela semak ...
Mengejar kepastian angan itu ...
Gejolak penuh nafsu akan dunia ..
Mengartikan sesaknya dada menghirup fanaMu ...
Aku hanya ingin nyenyak dalam angan bahagiaMu ...
Kucoba bangun menghampirimu ...
Tapi ...
Saat termenung dalam lamunanku terlintas kata pesonaMu ...
Inginku, anganku, dan mimpiku Kau yang punya ...
Tangis, tertawa, duka dan senang hanya aku yang punya ...
Keseimbangan abadi di jagad raya ini mengartikan falsafahMu ...


Mbah
21 April 2016 

Sendiriku

Tak ada penantian pasti ....
Hanya kata " menunggu " itu yang ada ...
Melangkah pun tak pasti ... hanya keraguan yang ada dalam benak ...
Suram terlihat ... dan gelap ..
Ingin sekali ku bangkit dari tidur panjang ini ... tapi kumulai dari mana ...
Daun yang terlihat kering, ingin sekali ku sirami tapi air pun tak ada ...
Kering dan kering ... dan panas ...
Luapan ini jadi batu terjal di otak ku ... serasa aku tak berdaya untuk melangkah lagi ...
Dalam sendiriku ...


Mbah 
21 April 2016

Terhempas

Kapanku akan bangkit ....
Menatap langit dengan rautan yang tak berbinar ... dan wajah tertunduk ...
Kusandarakan sejenak dalam tidur ku ....
Tapi tak hapuskan lamunan ku ...
Aku memang butuh untuk hidup ...
Aku memang butuh untuk di mengerti ...
Dan aku memang butuh untuk di pahami ...
Tapi aku tak butuh untuk di kasihani .... karena aku adalah aku ...
Manusia yang masih punya segenggam harapan untuk bangkit dan berdiri ...
Sangat berat rasanya ... menepis semua nya ....
Sangat berat ...
Tapi aku yakin akan jalan hidupku ...

Mbah
21 April 2016 

Friday, 29 January 2016

Berjalan Dalam Gelap

Berjalan Dalam Gelap

Tertatih lagi berjalan menyusuri jalan, menghampiri terang yang jauh ...
Semua rasa yang bernaung mengendap tak terkuak, hanya rasa perih di dada ...
Kumulai lagi lakon ini di balik muramnya panggung kehidupan ...
Jangan menyerah ... semangat ... teriakan itu terdengar terus di kuping kanan ku ...
Hingga saatnya aku berpikir tentang itu ...
Tak terkendali seakan rasaku untuk itu ... menanti datangnya cahaya terang lagi ...
Sabar itu sangat berat terasa ... tapi ringan rasanya badanku untuk melayang entah kemana ...
Ganas memang ... kejam rasanya ... dan tak adil sepertinya ...
Tapi hanya hamba yang tak ber Tuhan bicara dan berteriak soal itu ...
Kulit yang semakin kering dan tak segar lagi ini terasa mengelupas ...
Otak rasanya tak tahan untuk berputar ...
Mata redup tak bersinar ...
Mulut mulai berkicau tentang keadilan ....
Penuh kah negeri ini dengan orang-orang seperti aku ...
Mungkin tak terkira jumlahnya ...
Tak ada yang peduli saat berjalan dalam gelap ...
Tak ada lentera ... yang mencoba untuk menyinari ...
Lebih parah lagi tak ada lagi penyambung nyawa kehidupan ...
Semua kurasakan dalam gelap ...




                                                                                                                                                                mb@h 22112015

Monday, 7 December 2015

Inspirasiku

Terinspirasiku dalam katamu ...
Terpejam sejenak diantara daun itu ... tertambat lamunanku membentang di nirwana ... merasakan gejolak hati dalam dekapan rembulan ...
Sastraku berbicara menuai tabir hidup yang remang dan berkabut .... di jendela ini a bertengadah memandang biru langitmu ... dan berkataku dalam pikirku ... siap terbangkah diriku menggapai semua itu ... tanpa keraguan dan gundahku ...
Kulambangkan semua itu dalam narasi jejakku ...


Mb@h
071215

Hanya Diam

Diam ku tersudut ..
Diam ku terjerat ...
Diam ku terbuang ...
Diam ku dan diam ...
Imaji ku terbelah diantara bongkahan hati yang busuk ...
Kulambangkan sosok ku seakan terbang ...
Kuhemapas sekilas tak berbekas
Terlenaku akan karyamu dwipangga ... syair cinta yang bertabur darah .....
Gejolak nurani menegur sapa pikir ku .... untuk kembali dan bangkit
Sebelum matahari terbit ...



Mb@h
071215

Masa Lalu


Terseretku dalam masa lalu ...
Menempaku dalam gerak ...
Terpesonaku dalam khayal mu ...
Menanti sebuah kerinduan dekapanmu ...
Tak sedikitpun ruang bagiku ...
Tenggelamku dalam kumpulan diksi yang indah ...
Ini tak wajar untuk kuungkap ...
Satu fakta terjadi dalam ilhamku
Kuterperanjat .... melihat mu di mimpiku ... saat masa itu ...
Sesak ku rasakan .... rasa ini begitu kuat walaupun terbungkus buntalan waktu yang tak berujung, kukayuh sampan ini lagi untuk melihat dan menantimu dalam gelap ... di pusaran waktu yang tak mungkin kembali ...
Laraku ... begitu kuat seiring derap kasih dan cintaku ...
Tapi tetap ku jaga rasa ini ... sampai mati ...
Yakinku akan rasamu ...


Mb@h
071215

Tuesday, 1 December 2015

Renungan ...

Terdiam merenungkanmu kini ...
Terasa jauh ... memang ...
Kucoba kulukiskan kembali tarian hati tanpa nada ... di hatimu ...
Hanya detak jantungku yang bergetar saat ini ...
Kucoba meraba lagi benda berharga yang hilang ... dalam hatiku ...
Ingin kuukir kembali kata-kata itu di hatiku ...
Resahku memang tak berujung untuk itu ...
Tapi jalanku membawaku ke gerbang cinta itu ...
Lelah aku mendaki satu kata itu ...
Penatku menyerang tak beralasan ...
Muramku menyebar tanpa arah ...
Ingin kucoba lagi dengan kata itu ... 
Cinta ... tanpa nafsuku ...


Mbah
31/11/2015

Inginku Tidur Dalam TembangMu

Inginku tidur dalam tembangMu ...
Mengantarku ke sebuah istana ...
Lemahku berfikir dan nampak lembayung hidup seakan menepi di otakku ...
Ingin kutulis lagi cerita itu ...
Diatas kertas dengan pena kehidupan ...
Kucongkel, Kudobrak, Kutendang asaku tak henti berteriak ...
Menembus rimba terlebat yang pernah kulihat ...
Tapi tetap kuingat jalan panjang yang buatku jenuh dan tetap kuingat perjuangan yang buatku terkesan ...
Kubedah lagi kain putih yang besinar ... inginku masuk didalmnya ...
Merubah otak dan hatiku untuk bersujud kepadaMu ...

Mbah
31/11/2015


Sunday, 17 August 2014

Catatan Merah Putih

Gemerlap cahaya yang tertahan
Menebar makna yang berserakan
Sesaknya dada menahan penjajahan .... tabir pilu tapi mengesankan ....
Ada yang tertawa ....
Ada yang menangis ...
Ada yang murka ...
Bersedih dan bersujud ...
Lihat di sudut sana, tak sepeser pun ia dapatkan sampai matahari membakar tubuhnya ....
Dan lihat di sana juga mereka berteriak mencari keadilan di kaki anjing yang berdasi ....
Tapi di sebelah sana lagi berebut kursi .... untuk duduk nyaman dan penuh aksi ...
Udara yang panas membakar
Di jantung negeri ini ...
Pantas kah kita berteriak merdeka kalau lusuh kain bendera belum juga hilang ...
Tak pelak kata dan teriakan selalu menyambar akan maknamu ...
Tak henti juga bising roda kemiskinan berputar ....
Dan tak sedikit juga yang mati ...
Sebagai pecundang bukan pejuang ....
Slogan kebangsaan yang begitu indah memaknai ...
Terdengar di kuping orang yang duduk di pojok sana ... tapi dia hanya diam ...
karena takut berteriak merdeka ...
Cermin senja yang pulang keperaduan membawa kisah akan pedihnya negara ini ...
Semoga engkau tidur dengan tenang pejuangku ....
Jangan kecewa garudaku
Dan jangan menangis lagi merah putihku ...

mbah (170814 )