Saturday, 23 April 2016

Malam Di Pegunungan


Karya: Chairil Anwar
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Krawang – Bekasi


Karya: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Malam


Karya: Chairil Anwar
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
Thermopylae?
jagal tidak dikenal?
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Senja Di Pelabuhan Kecil


Karya: Chairil Anwar
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Rumahku


Karya: Chairil Anwar
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

Yang Terampas Dan Yang Terputus


Karya: Chairil Anwar
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Cintaku Jauh di Pulau


Karya: Chairil Anwar
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Prajurit Jaga Malam


Karya: Chairil Anwar
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

Sajak Putih


Karya: Chairil Anwar
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Cintaku Jauh di Pulau


Karya: Chairil Anwar
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

Tak Sepadan


Karya: Chairil Anwar
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak saru juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangga
Habis hangus di api matamu
‘Ku kayak tidak tahu saja
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

Lagu Siul


Karya: Chairil Anwar
Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga

Tuti Artic


Karya: Chairil Anwar
Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
isteriku dalam latihan; kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
-ketika kita bersepeda kuantar kau pulang -
panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar
,

Derai-derai Cemara


Karya: Chairil Anwar
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

AKU


Karya: Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Korupsi



 Di Atas itu Lebih Enak ....

Bangsa ini indah, indah akan alamnya serta kaya akan rempah dan hasil buminya. Tapi kenapa bangsa ini miskin akan etika dan moral untuk bernegara. Apakah rasa patriotisme itu sudah luntur ?  Kita sebagai anak bangsa seharusnya tidak sampai sejauh itu, menggunakan fasilitas atau alat negara sebagai kepentingan pribadi. Tapi mengapa itu terjadi ?
KORUPSI atau rasuah ( bahasa latin : corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok ) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Dalam arti luasnya korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan atau kepentingan pribadi. Hanya karena demi uang manusia tega melakukan hal seperti itu. Rakyat hanya bisa melihat, mendengar dan merasakan dari jauh akan ganasnya para pimpinan dan para pejabatnya saling berebut kekayaan serta kekuasaan. Mau jadi apa negara ini kalau pimpinan nya seperti itu .... dan tidak seharusnya kepala kita sebagai rakyat diinjak bagai binatang yang siap disembelih kapanpun. Padahal kita ( rakyat ) yang buat mereka diatas. 
Negara ini kaya, kaya akan keragaman budayanya .... tapi kaya juga akan penjahatnya ..., kekayaan itu tidak sebanding dengan kelakuan anak bangsanya sendiri yang tega menggrogoti hasil buminya sendiri. Kita berhak marah akan semua ini, kita berhak untuk berteriak supaya mereka yang duduk di meja bundar itu dengar. Lagi-lagi mereka lolos dari kejaran. Mereka berkelit seakan-akan mereka tidak melakukan hal itu. Perbuatan melawan hukum itu biasa di negara tercinta ini, buktinya jeruji besi tidak membuat mereka kapok untuk melakukan tindakan yang sama. Apa yang buat mereka kapok ? agar mereka tidak melakukan hal itu lagi .... mari kita jawab sama-sama dalam wacana buku ini ....
Kurangnya pengetahuan kita akan korupsi bisa jadi dasar kalau kita ini mudah dibodohi oleh pihak manapun, baik pimpinan, pejabat ataupun alat negara lainya. Dari hulu sampai hilir harusnya kita tahu aliran dana ( uang ) yang mengalir untuk kita ( rakyat ) agar kita tidak mudah untuk dibodohi ... demo sebagai senjata mahasiswa atau kita ( rakyat ) tak lagi digubris apalagi teriak-teriak di depan gedung DPR atau DPRD pun kita masih ditendang keluar. Dikiranya kita ( rakyat ) ini hanya cari kerjaan saja. Korupsi ... seharusnya pemerintah juga sadar diri dan tidak saling menyalahkan kenapa anak bangsa ini ( abdi negara ) bisa melakukan hal itu ... apakah kurang gaji mereka, apakah kurang kesejahteraan keluarga mereka dan apakah mereka sendiri yang haus akan kekayaan dan kekuasaan ? kasus pelik ini memang sangat lebar kalau di bahas bahkan tak akan ada habisnya.      
                Lemahnya pengawasan dari negara, kurangnya transparasi dalam pengambilan keputusan pemerintah, biaya kampanye-kampanye polotik yang mahal, proyek yang melibatkan uang rakyat yang cukup besar, jaringan-jaringan tertutup “teman lama” mementingkan diri sendiri, lemahnya hukum di negara ini, kurangnya kebebasan berpendapat, serta gaji dan kesejahteraan para pegawai di pusat maupun daerah yang terlalu rendah, rakyat yang cuek dan tidak tertarik atau mudah dibohongi dalam pemilihan umum, kurangnya kontrol yang cukup untuk mencegah penyuapan. Dari dampak-dampak ini maka terjadilah tindak pidana tersebut. Seharusnya mereka ( koruptor ) berfikir jangan berfikir dan jangan hanya mementingkan perut sendiri. Coba kita berfikir secara logika, sebenarnya korupsi yang terjadi di negara kita ini merupakan kebiasaan dari bangsa kita sendiri contoh kecil, kita terbiasa menggunakan sesuatu ( uang ) yang bukan milik kita digunakan untuk melancarkan suatu kegiatan walaupun toh akhirnya uang itu kita kembalikan di posisi semula. Logika ini coba kita renungkan sama-sama, kalau kita belajar mengupas sesuatu dari dasar maka kita akan dapat mengetahui akar permasalahan itu sendiri. Korupsi ini merupakan tantangan serius terhadap pembangunan, di dalam suatu negara korupsi ini dapat merusak tatanan pemerintahan ( demokrasi ) bagaimana tidak secara umum korupsi mengikis kemampuan suatu lembaga atau konstitusi bayangkan pejabat diangkat bukan karena prestasi tapi karena sogokan yang cukup besar, hal ini memicu ke tidak demokrasian suatu negara dalam mengambil suatu kebijakan. Kita ( rakyat ) harusnya sadar hal-hal tersebut sudah menjadi budaya di negara kita, tapi kita ( rakyat ) tidak semestinya takut dan hanya diam dalam menyikapi hal ini.
                Kita ( rakyat ) mengapa selalu dibungkam dan dibutakan tentang hal yang satu ini ? mereka ( koruptor ) tidak sadar bahwa mereka bisa ada diatas karena kita ( rakyat) mereka ( koruptor ) selalu berteriak atas nama rakyat dan bertindak atas nama rakyat. Kita bangsa Indonesia sudah lama dijajah kurang lebih 350 tahun kita merasakan pedihnya dijajah oleh bangsa asing tapi kenapa kita ( rakyat ) justru sekarang dijajah oleh bangsa kita sendiri ( koruptor ) sudah gelap kah otak kita untuk berfikir lebih sehat, sudah tidak mampu kah kita untuk berjalan lebih tegap menyongsong masa depan. Mau di kasih makan apa anak cucu kita nanti ? nasi hasil korupsi kah, pakaian hasil korupsi kah, rumah hasil korupsi kah ? tanda tanya yang sangat besar di otak kita sekarang ....
                Di media elektronik, koran, media sosial bahkan di seluruh dunia ini membahas masalah ini ... apakah pantas anak cucu kita setiap hari dijejali tontonan yang seperti itu ? harusnya mereka ( koruptor ) sadar diri bahwa anak-anaknya pun punya masa depan ... apa anak-anak nantinya akan bangga punya bapak seorang koruptor ? ketidakadilan ini menuai kontroversi harusnya tidak ... kalau mereka ( koruptor ) itu punya otak ... dimana mereka punya otak orang sama bangsa sendiri aja tega ... itu cermin bangsa kita yang sudah larut akan kekayaan dan kekuasaan ... kita ( rakyat ) harus sadar diri bahwa dunia ini semakin renta dan tua untuk dipijak akan melangkah kemana kalau anak cucu kita nanti berjalan dijalan yang sudah gelap dan tertutup ... apakah mereka bisa hidup dengan damai dan sejahtera kalau negara tidak bisa lagi mensejahterahkan rakyatnya ? Memang Di Atas itu Enak toh ...
                Hukum yang sangat lemah di negara ini membuat setiap peristiwa demi peristiwa gampang untuk dilipat dan dilupakan bahkan dianggap suatu hal yang remeh, tidak adanya efek jera bagi sang pelaku ( koruptor ) membuat mereka tidak kapok untuk mengulang perbuatannya. Pertentangan yang sangat kontroversial dimana sang pelaku selalu berkelit dalam setiap kasus, membuat kuping kita ( rakyat ) geram dan jengah. Tindakan sang penegak hukum pun tak ada bedanya, mereka sendiri terjerat dalam lingkaran ( korupsi ). Lalu kapan para pelaku ( koruptor ) bisa diberantas di negara ini. Bencana yang sangat besar yang melanda di negara kita yang tercinta ini belum tertuntaskan sampai kapanpun, karena mereka ( pejabat / koruptor ) tetap berfikir kalau di atas itu lebih enak ...

Masih Bertahan ...

Saat ini dan kapanpun kucoba berdiri tegap di sini ...
Mencoba beralihpun tak terlintas jua ... di benak ku ...
Kutegapkan lagi menyongsong matahari ... demi kau .. semua ...
Memang tak berarti ... semua ini bagimu ...
Tapi sangat berarti bagiku ...
Memang itu berat kujalani ... aku masih bisa bertahan ...
Sekarang, nanti dan sampai kapan pun itu ...
Elegi kehidupan memang merambat terus ...
Tapi aku yakin roda tetap akan berputar ... berputar menjadi lebih baik .....
Tak sadarkah kita ... Masalah itu dari kita sendiri datangnya .... 



Mbah
22 April 2016

Tak Berarti Lagi ..

Kuhentakkan kakiku di sini ... hanya untuk kau dengar ...
Kuhembuskan nafasku hanya untuk kau rasakan ...
Tapi ini hanya angin lalu bagimu ....
Ingin ku terbang lagi bersama mu agar lebih bisa berarti lagi ...
Tapi itu tak mungkin ....
Karena sudah tak berarti lagi .... buatmu


Mbah
22 April 2016

Thursday, 21 April 2016

Nyenyakku ...

Rindu akan terbang di langitMu ...
Dengan angan yang bercampur awan ...
Terendus bau wangi di sekitar hijau mu ..
Di balik pohon itu aku sembunyi ...
Dan hanya melihat ...
Kedamaian yang tak terukir di benakku ...
Impian itu menghanyutkan angan tidur kelam ku ...
Warna hidup memang beraneka ...
Tapi kilau putihmu tak tertandingi ...
Lemah aku disela semak ...
Mengejar kepastian angan itu ...
Gejolak penuh nafsu akan dunia ..
Mengartikan sesaknya dada menghirup fanaMu ...
Aku hanya ingin nyenyak dalam angan bahagiaMu ...
Kucoba bangun menghampirimu ...
Tapi ...
Saat termenung dalam lamunanku terlintas kata pesonaMu ...
Inginku, anganku, dan mimpiku Kau yang punya ...
Tangis, tertawa, duka dan senang hanya aku yang punya ...
Keseimbangan abadi di jagad raya ini mengartikan falsafahMu ...


Mbah
21 April 2016 

Sendiriku

Tak ada penantian pasti ....
Hanya kata " menunggu " itu yang ada ...
Melangkah pun tak pasti ... hanya keraguan yang ada dalam benak ...
Suram terlihat ... dan gelap ..
Ingin sekali ku bangkit dari tidur panjang ini ... tapi kumulai dari mana ...
Daun yang terlihat kering, ingin sekali ku sirami tapi air pun tak ada ...
Kering dan kering ... dan panas ...
Luapan ini jadi batu terjal di otak ku ... serasa aku tak berdaya untuk melangkah lagi ...
Dalam sendiriku ...


Mbah 
21 April 2016

Terhempas

Kapanku akan bangkit ....
Menatap langit dengan rautan yang tak berbinar ... dan wajah tertunduk ...
Kusandarakan sejenak dalam tidur ku ....
Tapi tak hapuskan lamunan ku ...
Aku memang butuh untuk hidup ...
Aku memang butuh untuk di mengerti ...
Dan aku memang butuh untuk di pahami ...
Tapi aku tak butuh untuk di kasihani .... karena aku adalah aku ...
Manusia yang masih punya segenggam harapan untuk bangkit dan berdiri ...
Sangat berat rasanya ... menepis semua nya ....
Sangat berat ...
Tapi aku yakin akan jalan hidupku ...

Mbah
21 April 2016 

Friday, 29 January 2016

Berjalan Dalam Gelap

Berjalan Dalam Gelap

Tertatih lagi berjalan menyusuri jalan, menghampiri terang yang jauh ...
Semua rasa yang bernaung mengendap tak terkuak, hanya rasa perih di dada ...
Kumulai lagi lakon ini di balik muramnya panggung kehidupan ...
Jangan menyerah ... semangat ... teriakan itu terdengar terus di kuping kanan ku ...
Hingga saatnya aku berpikir tentang itu ...
Tak terkendali seakan rasaku untuk itu ... menanti datangnya cahaya terang lagi ...
Sabar itu sangat berat terasa ... tapi ringan rasanya badanku untuk melayang entah kemana ...
Ganas memang ... kejam rasanya ... dan tak adil sepertinya ...
Tapi hanya hamba yang tak ber Tuhan bicara dan berteriak soal itu ...
Kulit yang semakin kering dan tak segar lagi ini terasa mengelupas ...
Otak rasanya tak tahan untuk berputar ...
Mata redup tak bersinar ...
Mulut mulai berkicau tentang keadilan ....
Penuh kah negeri ini dengan orang-orang seperti aku ...
Mungkin tak terkira jumlahnya ...
Tak ada yang peduli saat berjalan dalam gelap ...
Tak ada lentera ... yang mencoba untuk menyinari ...
Lebih parah lagi tak ada lagi penyambung nyawa kehidupan ...
Semua kurasakan dalam gelap ...




                                                                                                                                                                mb@h 22112015

Monday, 7 December 2015

Inspirasiku

Terinspirasiku dalam katamu ...
Terpejam sejenak diantara daun itu ... tertambat lamunanku membentang di nirwana ... merasakan gejolak hati dalam dekapan rembulan ...
Sastraku berbicara menuai tabir hidup yang remang dan berkabut .... di jendela ini a bertengadah memandang biru langitmu ... dan berkataku dalam pikirku ... siap terbangkah diriku menggapai semua itu ... tanpa keraguan dan gundahku ...
Kulambangkan semua itu dalam narasi jejakku ...


Mb@h
071215

Hanya Diam

Diam ku tersudut ..
Diam ku terjerat ...
Diam ku terbuang ...
Diam ku dan diam ...
Imaji ku terbelah diantara bongkahan hati yang busuk ...
Kulambangkan sosok ku seakan terbang ...
Kuhemapas sekilas tak berbekas
Terlenaku akan karyamu dwipangga ... syair cinta yang bertabur darah .....
Gejolak nurani menegur sapa pikir ku .... untuk kembali dan bangkit
Sebelum matahari terbit ...



Mb@h
071215

Masa Lalu


Terseretku dalam masa lalu ...
Menempaku dalam gerak ...
Terpesonaku dalam khayal mu ...
Menanti sebuah kerinduan dekapanmu ...
Tak sedikitpun ruang bagiku ...
Tenggelamku dalam kumpulan diksi yang indah ...
Ini tak wajar untuk kuungkap ...
Satu fakta terjadi dalam ilhamku
Kuterperanjat .... melihat mu di mimpiku ... saat masa itu ...
Sesak ku rasakan .... rasa ini begitu kuat walaupun terbungkus buntalan waktu yang tak berujung, kukayuh sampan ini lagi untuk melihat dan menantimu dalam gelap ... di pusaran waktu yang tak mungkin kembali ...
Laraku ... begitu kuat seiring derap kasih dan cintaku ...
Tapi tetap ku jaga rasa ini ... sampai mati ...
Yakinku akan rasamu ...


Mb@h
071215

Tuesday, 1 December 2015

Renungan ...

Terdiam merenungkanmu kini ...
Terasa jauh ... memang ...
Kucoba kulukiskan kembali tarian hati tanpa nada ... di hatimu ...
Hanya detak jantungku yang bergetar saat ini ...
Kucoba meraba lagi benda berharga yang hilang ... dalam hatiku ...
Ingin kuukir kembali kata-kata itu di hatiku ...
Resahku memang tak berujung untuk itu ...
Tapi jalanku membawaku ke gerbang cinta itu ...
Lelah aku mendaki satu kata itu ...
Penatku menyerang tak beralasan ...
Muramku menyebar tanpa arah ...
Ingin kucoba lagi dengan kata itu ... 
Cinta ... tanpa nafsuku ...


Mbah
31/11/2015

Inginku Tidur Dalam TembangMu

Inginku tidur dalam tembangMu ...
Mengantarku ke sebuah istana ...
Lemahku berfikir dan nampak lembayung hidup seakan menepi di otakku ...
Ingin kutulis lagi cerita itu ...
Diatas kertas dengan pena kehidupan ...
Kucongkel, Kudobrak, Kutendang asaku tak henti berteriak ...
Menembus rimba terlebat yang pernah kulihat ...
Tapi tetap kuingat jalan panjang yang buatku jenuh dan tetap kuingat perjuangan yang buatku terkesan ...
Kubedah lagi kain putih yang besinar ... inginku masuk didalmnya ...
Merubah otak dan hatiku untuk bersujud kepadaMu ...

Mbah
31/11/2015


Sunday, 17 August 2014

Catatan Merah Putih

Gemerlap cahaya yang tertahan
Menebar makna yang berserakan
Sesaknya dada menahan penjajahan .... tabir pilu tapi mengesankan ....
Ada yang tertawa ....
Ada yang menangis ...
Ada yang murka ...
Bersedih dan bersujud ...
Lihat di sudut sana, tak sepeser pun ia dapatkan sampai matahari membakar tubuhnya ....
Dan lihat di sana juga mereka berteriak mencari keadilan di kaki anjing yang berdasi ....
Tapi di sebelah sana lagi berebut kursi .... untuk duduk nyaman dan penuh aksi ...
Udara yang panas membakar
Di jantung negeri ini ...
Pantas kah kita berteriak merdeka kalau lusuh kain bendera belum juga hilang ...
Tak pelak kata dan teriakan selalu menyambar akan maknamu ...
Tak henti juga bising roda kemiskinan berputar ....
Dan tak sedikit juga yang mati ...
Sebagai pecundang bukan pejuang ....
Slogan kebangsaan yang begitu indah memaknai ...
Terdengar di kuping orang yang duduk di pojok sana ... tapi dia hanya diam ...
karena takut berteriak merdeka ...
Cermin senja yang pulang keperaduan membawa kisah akan pedihnya negara ini ...
Semoga engkau tidur dengan tenang pejuangku ....
Jangan kecewa garudaku
Dan jangan menangis lagi merah putihku ...

mbah (170814 )

Tuesday, 12 August 2014

Jiwa ...

Berlalu berserak terbang ...
Menanam benih baik di atas lahan
Bernyawa dan bertenaga ...
Mengubah untuk jiwa yang tenang
Beralih tersontak terkejut membungkam mulut terendap ...
Dalih kata ingin kembali di pangkuan mu pertiwi ....
Darah ku berdesir seolah menagih janji ...
Meronta akan kemerdekaan sosial ...
Melambaikan tangan merasakan hidup penuh cinta dan sayang ....
Kobaran api semangat, mengibaskan rambut yang terurai di terpa angin kemenangan ....

Mb@h
10/08/14

Sunday, 10 August 2014

Kabut Tebal ....

Yakin yang hinggap diantara asa bersemi ...
Bagai menuai padi di padang yang kering ...
Kegigihan untuk menjadi baik tertutup angan melabung mereka
Tertutup sudah di pintu yang di banting malam tadi ....
Aku tengkurap di atas rumput penuh duri ....
Menyaksikan badut berkanaval membawa kemenangan ....
Lama sudah yakin itu ada ...
Tapi ... pusaran air semakin kencang berputar ... berputar ke arah kehancuran ...
Dua biji jagung yang seakan menjadi benih tertelan gerusan tanah hitam berlumpur ....
Kurasakan sakit di malam dingin ... tanpa sentuhan kebenaran yang kuharap ....
Kasih itu memang indah ...
"̮˚°◦♡ ©¡nt@... ♡◦°˚"̮   itu penuh damai ....
Tapi hanya asa yang terpendam jauh karena angkara ...
Cukup lama memang dan cukup sakit ....
Lampiasan akan dunia memang sangat dekat diotak ...
Siapa yang salah ... kamu ... kamu .. atau aku ...
Tepukan tangan akan itu semua menambah kabut tebal yang turun dan semakin menutupi .... semuanya ....
Kenapa harus kau yang keluar dari gedung itu ... harusnya kau ... bangsat .... tak terhiraukan sudah
Karena kabutnya semakin tebal ...
Kurasakan itu setiap mentari muncul dari peraduan ibunya ...

Mbah
10/08/14

Semakin dalam luka itu ....

Memandang tapi tak mampu bergerak ....
Mengungkap tabir tapi hanya kebiran mulut kotor yang mengiang ....
Penat tak berujung yang menghampiri ...
Ibarat pisau tajam menghunus muka dalam topeng ...
Kesabaran dalam hidup mulai beranjak ...
Kesetiakawanan tak berarti menjelang kehancuran ...
Argumentasi hidup bicara dalam makna tak berarti ....
Jadi terlihat datar tak bersemangat ...
Menggaung kata dalam sebuah gedung yang tertutup ....
Secerca harapan untuk hidup melabai kan tangan ...
Kasar terlihat ... meminta untuk diam dan hanya diam ...
Tapi langit tetap tak biru ...
Melainkan luka semakin dalam ...

Mbah
08/08/14

Thursday, 7 August 2014

GAZA

Teriakan akan kemerdekaan ternyata belum usai ...
Masih ada yang menjerit, terluka, kehilangan dan mati ... 
demi wilayah dan negara ....
Cermin hidup sangat besar untuk semua negara akan  ....
kemerdekaan yang abadi ....
Suara bising kendaraan lapis baja, tembakan meriam, lontaran granat 
dan lesatan bom yang meluluh lantakan segalanya ....
Masih ada, terdengar dan terlihat
Anak cucumu Adam ....
Yang bertikai mengotori bumi tanpa rasa berdosa ....
Tangis bocah yang kehilangan keluarganya dan ibu kehilangan anaknya ... 
semua meratapi itu ...
Rasa saling menyalahkan ...
Rasa ingin menang
Dan rasa ingin memiliki ...
Manusia .... manusia ....
Mau berapa lagi nyawa melayang di jalur mu GAZA .......


Mbah .... ( 07082014)
at 72 hours for FREEDOM
Pray For Palestine .......

Monday, 4 August 2014

Catatan sang pendaki

Diam dibalik pagar kehidupan yang semakin larut dalam kegelisahan ...
Membawa kembali makna yang hanyut dan terlewat begitu saja ...
Tak henti bergumam tentang nasib ...
Menatap jalan yang semakin panjang .... diantara rekahan belantara ....
Aku berusaha berpikir memilih diksi untuk kalimat yang tertuang ...
Di lembah itu nampak sosok gontai dengan ransel penuh dengan beban ....
Katamu puncak masih jauh ....
Ku minum lagi segelas kopi panas yang baru tertuang ....
Besok kita lanjutkan lagi ....
Kurebahkan badanku di atas matras yang tidak seempuk kasur dirumah ...
Langit tenda mulai mengisyaratkan akan dinginnya malam yang menusuk
Terdengar gemericik mata air yang seakan menyelam dalam mimpiku
Matahari mulai menunjukkan rekahan sinarnya .... terbangun aku dalam kehangatan pagi .... dengan susu panas yang sudah terhidangkan ....
Begitu indah alam ini ... dipelukan hamparan cikasur .....
Kutarik nafas dalam - dalam menghirup udara yang tak akan hadir setiap harinya .... sapaan alam berlanjut dengan derap langkah kaki ku menyusuri lereng dewi rengganis ....
3.008 mdpl jalan yang baru kutempuh .... dengan iringan suasana indahnya hamparan padang edelweis .... surgamu ya penguasa alam .... sadarkah manusia yang di bawa sana akan anugerahmu ....
Begitu indah puncakmu argopuro ......
Sadarkah mereka akan kegagahan alammu ...
Sadarkah mereka akan lestarimu ....
Aku kira masih jauh ........


mbah
12/06/2014

Renungan malam

Renungan dalam jiwa merasakan segala suasana .....
Yang tanpa basa basi lewat  tertancap dan larut dalam hening ...
Memang indah ... seindah susananya ...
Tipuan angin malam mengawasi cemas ....
Terinspirasi gelap dan berbulan ....
Diam tak bersuara semuanya dalam pelukan malam
Tapi aku masih berdiri menantang dan merasakan dingin malam ...
Kulihat langit bersahabat dalam senyuman bintang ...
Menitih tabir dan menyikap awan .....
Mulai gontai tersayat dimata ku ... mengingatkan a untuk kembali ...
Dalam rebahan sang peraduan malam ....
Tapi aku coba berdiri dalam kehanyutan ....
Mencoba meraba .... menerka ... mengulas .... dan mencari kesalahan ....
Dalam perjuangan hidup ....
Tertatih .... memang merangkak memang ... dan hampir merasakan mati ...
Masih a coba untuk merenung dan menghayat pikiran ....
Berbicara memang mudah tapi untuk melangkah sangat berat ....
Warna demi warna sudah aku lalui tanpa gambar berjejak ....
Merasakan denyut jantung kehidupan ...
Tapi tetap aku tulis dalam makna hidup perwujudan ....
Kenyataan memang tak seindah yang aku impikan ...
Tapi makna demi makna semakin berjejal dalam otak ...
Seakan ingin mengartikan semuanya ....
Hanya dalam satu kata terangkum .....
Meretas keheningan .....

mbah
14/06/2014

Menatap indonesia ke depan

Belenggu besi yang tak pernah bisa terbongkar ...
Tirani politik yang membuat kita jadi buruh di negara sendiri ....
Sandiwara pencitraan dan selubung politik terkesan harmoni ....
Jalan menuju istana dengan membawa impian rakyat ...
Setelah sampai dibuang jauh ... impian itu ...
Bagai membuang bangkai di lautan luas .....
Kasian kau merah putih .... setelah semua nya mati akan perjuangan ....
Sekarang mereka mati di jeruji akibat makan hasil korupsi ....
Negara apa ini .... tanah air apa ini .... tak ada yang peduli ....
Hanya ingin duduk di kursi berjas dan berdasi .....
Tapi ingatkah kita akan perjuangan .....
Mereka yang terkapar dengan darah yang bercucuran tp tanpa tanda jasa ...
Sekarang orang berteriak dengan membawa simbol benderanya ....
Minta untuk disanjung dan dipilih .... adilkah ....
Hidup indonesia ..... hidup tanah airku ... hanya menggaung di telinga bukan di hati .....
Kita buta akan politik ...... kita buta akan birokrasi ..... kita buta akan semua
Tapi tak ada yang menuntun ....
Benderaku ..... garudaku ..... terselip kata dalam jeroan otak ku .....
Bangsat ....... tak ada yang peduli dengan engkau ....
Engkau hanya terpasang ditiang dan terpajang di tembok kantor .....
Sudah serusak ini kah negara ku ....
Sudah sebejat ini kah mental negaraku .....
Sudah lupa kah kita akan nyanyianmu .....


mbah
15/06/2014

Kutipan

Secercah cahaya menanti dari kejauhan ... mengingatkan kita untuk bersandar di tembok yang benar ....
Tak pelak sudah ada yang berteriak di balik itu ....
Jangan kau dekatkan kepalamu ...
Apa alasannya .....
Apakah manusia tak boleh dijalan yang benar .....
Sudah semakin banyak dan penuh jeruji besi ....
Sudah banyak kasus yang menumpuk di meja polisi .....
Dan sudah semakin banyak permasalahan yang basi .....
Orang - orang berteriak melawan lupa ...
Tapi disudut sana berteriak mengangkat bendera partainya ...
Kepincangan semakin menampak tanpa setapak pun ada kaki yang berpijak ....
Katamu kita peduli ...
Katamu kita koalisi untuk satu hati ...
Itu katamu bukan kataku ......
Semua koran berbicara tentang orang gila di pojok sana ...
Tapi di jalan berbicara orang hebat yang mampu merubah segalanya ...
Dengan janji dan harapan .... tapi palsu ....
Kapan merah putih bisa berkibar dengan gagah .....
Kapan garuda bisa terbang setinggi langit dan mengepakkan sayap dunia ..
Kalau hanya mulut yang bekerja .....
Tak nampak sudah harapan itu tanpa kita yang bangkit .....

mbah
15/07/2014

Separuh jiwa

Jalan gelap terlihat ....
Menepi tapi tak mampu ....
Berharap tapi tak kunjung datang
Kehampaan batin tersirat ...
Menerpa otak yang kalut ....
Tebing tinggi menjulang terlihat tak berornamen .... menantang tapi tak bertenaga ...
Arti akan hidup menyederhanakan kata yang terserak tak berkoma ...
Rasa ini ... kenapa tak berujung dan gapaian harapan serasa sirna sentuhan lembut datang dan berbisik "taruh semua yang ada di otak mu ... satu persatu pasti akan terurai tanpa bekas ...."
Aku hanya bisa menghela nafas dan usapan tangan sampai ke jidat .... tanpa disadari aku pun terlelap dalam pelukan hangat ...
Malam mulai menunjukkan nyalinya .... dingin tak berkabut mulai menyertai ... lelap dan mimpi akan hari esok menunggu di kelopak mata yang mulai lelah ... terima kasih cintaku .... akan sentuhan hangat dan kasih mu ...


mbah
19/07/2014

Doa melawan lupa

Malam yang dingin menghantarkan pikiran yang terhanyut dan berlalu ....
Perenungan soal negeri ini seolah tak ada habisnya ....
Adakah sosok yang sanggup mengantar kegerbang kemerdekaan ke dua .... masih belum nampak sosok itu ....
Semua orang ingin melawan lupa ...... lupa akan segalanya .....
Di puncak tertinggi jawa ada sosok yang mati dan terkapar karena pencarian jati diri ...... mereka generasi muda pasca kemerdekaan ....
Asal u tau itu ..... bangsat tapi dilupakan ..... heran ... manusia bisanya hanya mengeluh ....
tanpa apa sebabnya ..... heran .....
Kawah jonggring salaka menjadi saksi .... atas kearifan mu ... keintelektualanmu ....
dan keberanianmu .... Gie ... 
Hari ini sudah aku liat sepak terjangmu dulu ....
Demokrasi akan menggulingkan tiran sudah mulai nampak ....
Dan mau kah kau berjabat tangan untuk kenal denganku ....
Aku akan bantu mereka yang tanpa serdadu untuk berperang melawan ditaktor .... dan tanpa uang untuk berantas korupsi ......
Tidurlah sobat ku dengan tenang walaupun a tak kenal kau .....
Seribu tangan siap untuk teruskan semua ......
Cuplikan dan potretmu .....
Disebarang istana terlihat berkibar merah putih ....
Yang mungkin berbicara .... segitu bangsat kah tanah air ini ...
Kulihat mentari pagi bersinar menyinari suasana yang nampak ramai ...
Dari kejauhan terlihat kerumunan berbicara mana yang terbaik .....
Terbaik untuk semua atau untuk yang ada dalam gedung itu ....
Demokrasi berteriak tanpa kepastian diantara berjalannya politik hitam ...
Katanya ..... integritas yang tinggi buat kaum pejabat .... tapi masih terpendam didalam hati orang melarat ....
Katanya realita polotik itu kejam tidak bagi kaum koruptor .....
Secuil harapan hanya tersisa batin yang teriris ...
Disayapmu kita berharap untuk terbang jauh ....
Dipunggung gagahmu kita berharap kau gendong menuju gerbang kemakmuran .... dan didadamu kau simpan norma dan nilai-nilai kehidupan .....
Banyak orang mati membela dan melindungimu ...
Dan banyak pula yang lupa akan perjuangan .... mu ...

mbah
16/05/2014

Keringat untuk merah putih

Sambungan teriakan merdeka ..... merdeka .... .merdeka atau kau mati ....
Hanya satu kalimat ... kerja ....... atau kau kelaparan ........
Tapi tidak bagi para orang-orang yang ada dalam istana yang megah itu,
Korup ..... atau kau gak punya uang .........
Lahdalah ... cermin sudah pecah bagai serpihan pasir yang berhamburan di padang tandus ... sudah tidak bisa untuk berkaca lagi dan tidak bisa untuk melihat sebejat apa jati diri kita dan sebagus apa pribadi kita ...
Semua serba gengsi dan jaga martabat ... tapi martabat negara digoreng kayak kue donat . Tak terbayangkan dipikiran kita ... banyak orang pintar disana ... banyak orang jenius di dalam sana .... tapi juga banyak orang buta ... hahahahahahaha ... tak bisa melihat tapi bangga akan dirinya ...
Diluar sana orang banyak terlukai ... tertindas ... dicaci maki dengan keadaan ... dilupakan karena dulunya melacur ... dan digebuki karena mencuri ... sandal di masjid ... terasa pecah telinga mendengar berita banjir .... kebakaran hutan ... rusaknya habitat dan alam ... karena perburuan liar dan penebangan hutan liar ... siapa yang mau mengembalikan republik ini kembali, yang sudah bertahun tahun hilang jati dirinya .....
Mulai menata dan merangkak lagi ...


mbah
17/06/2014

Tak bernyawa lagi

Tak terpikir diotakku .... saudaraku banyak yang pergi dan mati .....
Semua karena kau demokrasi ....
Kekuasaan yang pada hirarkinya sebagai pemimpin rakyat hanya jadi bulan bulanan para pejabat tak bermartabat .....
Sudah berapa tahun kasus yang basi tanpa solusi terbius ..... tak sadarkan diri ... menggapai impian tak pelak hanya menanti harapan buta tanpa arah dan sesat tak berujung .... panji-panji demokrasi terlahir ditengah bejatnya republik ini .... tapi daun masih tertiup angin itu pertanda belum keringnya kesadaran akan kebebasan ... tapi apakah berarti kita berhak berteriak dalam sampul yang tertutup rapat .....
Jalan tirani memang sudah lepas tapi remang-remang .....
Teriakan para aktivis masih kencang terdengar .....
Apakah kita takut untuk berbaris dan berdiri didepan ..... kalau ketakutan itu masih membelenggu berarti kita setuju akan barisan perbudakan ....
Miris mendengar teriakan itu ... menangis pun sudah tak berlinang air tapi darah yang tersabit lebih dari sembilu .... sangat tragis bangsa dan tanah air kita ... banyak orang yang masih tega makan keringat saudaranya .... dan masih banyak pejabat tega makan uang rakyatnya .....
Sangat hina republik yang penuh akan kekayaan alam ini .....
Hak asasi manusia ditelan mentah-mentah demi pundi-pundi kekayaan ...
Peluru-peluru masih banyak menembus anak negeri yang tak berdosa ...
Merontakah merah putih ..... tidak dia hanya berkibar sedikit malu-malu kata bang iwan ....
Hai ditaktor turun dari kursi empuk mu. ..... jilat ini ludah kami ....
Hai para penghuni istana tidur di ranjang peyot kami ....
Hai tikus-tikus kantor minum digelas gembreng kami dan makan lauk kami yang basi .... maukah ....
Tak ada yang bernyawa lagi .... hanya sesosok surban putih datang dan berkata hidup itu penuh rintangan jangan lelah untuk bangkit dan berdikari dengan kaki kita sendiri .... walaupun sudah tak bernyawa lagi .......


mbah
21/06/2014

Derap langkah sang pendaki

Derap langkah sang pendaki ..... Perlahan menapak dengan langkah penuh asa dan harapan, sorot sinar matahari menyengat mengiringi jalan terjal dan berbatu ....
Langkah yang penuh makna dibalik indah panorama meretaskan penat dan rasa capek yang menggeliat. Tiupan angin seakan merubah suasana yang tak bersahabat dan berganti dingin. Beban dipundak serta baju yang sudah mulai bau dan lusuh karena keringat menambah semangat baru untuk meraih tujuan. Lelah mulai menghampiri, langkah mulai terhenti ...
Tenggakkan air mineral mengisi kerongkongan dan sedikit bekal untuk perut yang keroncongan. Selang beberapa menit berlalu terlihat sosok gontai berjalan menghampiri ... " masih jauh jalan ke puncak ... " duduk ia bersandar mendampingi ... dan mulai membuka bungkusan bekal yang dibawanya .... hari sudah mulai gelap, tongkat tenda mulai tertancap satu persatu ... hawa dingin serta kabut mulai turun di balik bukit .... lampu charge dan api unggun mengiri kehangatan gurauan dan canda tawa para sahabat ... " besok kita lanjutkan lagi perjalanan ...." dingin malam mulai menusuk, kabut semakin turun menghampiri dan menyelimuti, semakin tak terlihat bayangan tenda yang nampak dari kejauhan. Terang sinar cahaya menggantikan kabut tebal serta hawa dingin muncul ... pertanda pergantian hari ... lelap terbawa angan akan indahnnya perjalanan menuju puncak keabadian ... secangkir susu hangat tersaji di gelas nesting, menghangatkan suasana pagi yang indah ... temaram terlihat dari kejauhan suasana indah diatas sana ... takjub melihat kebesaran mu akan indah alam ini ... " ayo kita lekas berkemas ... mumpung hari masih pagi ..." carrier sudah terpacking dengan rapi dan bersarang dipunggung, langkah kaki mulai menapak ... berjalan menyusuri belantara perbukitan ... nampak jelas tebing tinggi didepan mata ... paku phyton yang terlilit carmantel menancap di punggung tebing .... beberapa menit kemudian tapal batas ketinggian terlihat jelas 2.500 mdpl telah terlampaui ... dengan nafas tak beraturan tenggakkan air mineral pun mengucur di tenggorokan ...
Nampak disana terlihat hijau ..... indah bunga edelweis memberi suasana baru akan kehidupan ... bagai terbang di atas awang-awang ...
Sedikit lagi perjalanan, " kemasi peralatan ... ayo kita lanjutkan lagi ....
Jiwa, raga, serta nafsu tertahan melihat pemandangan eksotik nan indah tak terucap ... lelah dan penat seakan terbayarkan ... mereka berlarian ... menancapkan sang saka diantara bebatuan ... inikah puncak yang dimaksud ... inikah perjuangan yang melelahkan ... dan inikah akhir perjalanan .... kenikmatan, canda tawa, tangis haru dan kepuasan batin ... lebur jadi satu menjadi keabadian ... catatan sang pendaki ...

mbah
24/07/2014

Ingin kutapak kan lagi ...

Rautan wajah semakin mengerut ... seperti ada sesuatu yang hilang ...
Risau tak berujung menambah sakit hati akan kerinduan ....
Kursi kayu yang semakin rapuh seakan bicara ....
Kapan kerinduan itu terobati ....
Hanya kertas dan pena yang mengukir lukisan otak dan mengobati rasa penat ....
tapi masih tetap ....
Indahnya suasana punggungan bukitmu ..
Pesona panorama puncakmu masih tercetak dalam ingatanku ...
Dingin kabut tebal dan tapak jalan terjalmu masih ingin kurasakan ....
Kembali .....
Tanya dalam kata yang tak terucap melambung bersama angan ...
Tapakan demi tapakan kaki semakin mempertebal kerinduan akan gagahmu ...
 belantara lebat yang mengiringi ganasnya tebing dan jurangmu seakan terdekap dalam pelukan mimpi ... 
Berita isi rimba yang terbakar ...
Kabar fauna yang mati tertembak ....
Floramu yang rusak dan hilang tercuri ...
Sampah yang menggunung dan tercecer tanpa sadar ...
Semua jadikan semangat untuk menapak mu lagi ....
Jadikan ambisi menelusuri belantaramu lagi ....
Semua kenangan akan tentangmu membuat rasa tersendiri .... bagiku ..
Ingin kutapak kan lagi ...
Satu kata yang terucap .... salam lestari ....

Mbah
22/06/2014

Detak

Hening senyap dalam kesendirian membuatku berdetak .....
Berdetak tak berhenti ...
Menjalar semakin menjalar dan tenggelam dalam detakan ....
Apakah jantung dunia berdetak juga ... sepertiku ..
Rasa khawatir ...
Rasa curiga ....
Rasa ragu ... hadir semua rasa itu di setiap detakan ...
Usapan tangan di jidat tak henti ...
Menghela nafas memburu ...
Keraguan tanpa jawab ...
Pastikan ... kata pikir berbicara ....
Tapi kata tapi tak henti mengganggu ... mencerna kalimat dengan beda ...
Wajah sayu tersirat dari terawang lampu ... menghujam bagai membunuh ..
Detak waktu yang membelenggu jiwa dan matikan otak ku ...
Kasar dalam pikir mengerucut ...
Emosi jiwa melambai seakan mengajak ku kedalam pelukannya ....
Kutahan tapi tambah lebih dekat ...
Dan berdetak ........ 




Mbah
04/08/2014